Gedung Siola Surabaya
Nama Resmi
Gedung Siola
Arsitek
Robert Laidlaw
Tahun
1877
Fungsi Awal
Pusat perkulakan dan toko serba ada (toserba) eceran bernama “Whiteaway Laidlaw & Co” yang menjual berbagai barang impor dari Inggris.
Gaya Arsitektur
Indische Empire
ARSITEK

Narasi Deskripsi Sejarah

Gedung Siola bukan sekadar struktur beton di Jalan Tunjungan; ia adalah saksi bisu transformasi Surabaya dari pusat perdagangan kolonial menjadi medan pertempuran revolusi. Signifikansi gedung ini dalam konteks kolonialisme dan imperialisme tercermin dari statusnya sebagai pusat pertokoan terbesar di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Kehadirannya memantapkan kawasan Tunjungan sebagai area elit bagi warga Belanda dan kaum jetset untuk memenuhi gaya hidup Barat mereka.
Gedung ini merepresentasikan gurita bisnis global Inggris melalui merk dagang Whiteaway Laidlaw & Co, yang pada masanya memiliki jangkauan setara dengan peritel raksasa modern. Namun, fungsi komersial ini berubah drastis saat pecah revolusi kemerdekaan. Gedung ini bertransformasi menjadi titik pertahanan krusial pejuang Republik—yang dikenal sebagai “tempat jibaku”—untuk menghadang gerak maju tank dan pasukan Inggris di Surabaya.
1877
Robert Laidlaw mendirikan bangunan awal di pojok Jl. Tunjungan dan Gentengkali.
1900-an
Bangunan direnovasi dengan gaya arsitektur yang dikenal saat ini dan menjadi pusat grosir terlengkap.
1935
Bisnis Whiteaway Laidlaw gulung tikar setelah Robert Laidlaw wafat; gedung diambil alih oleh pemodal Jepang dan berganti nama menjadi Toko Chiyoda
1945
Gedung menjadi benteng pertahanan pejuang Surabaya. Akibat pengeboman udara oleh Inggris, bagian depan dan atap gedung hancur total.
1950
Gedung direbut oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui proses nasionalisasi aset asing
1960
Lima pengusaha (Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, Ang) menghidupkan kembali gedung ini sebagai toko ritel dengan nama SIOLA.
1998
Siola resmi ditutup karena kalah bersaing dengan mal modern lainnya.
2015
Di bawah kepemimpinan Walikota Tri Rismaharini, gedung difungsikan sebagai Mall Pelayanan Publik dan lantai 1 dijadikan Museum Surabaya.
Sumber Referensi
- Romadhonita, N., & Elviana, E. (2023). Kajian karakteristik kawasan Tunjungan sebagai heritage Kota Surabaya. Jurnal Pengembangan Kota, 11(2), 181–190. https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jpk/article/view/22122
- Mifta Elok, A., & Mastuti Purwaningsih, S. (2024). GAYA HIDUP ELIT EROPA DI KAWASAN TOENDJOENGAN SURABAYA TAHUN 1870- 1942. AVATARA E-Journal Pendidikan Sejarah, 12(1). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/58716
- Sholihah, R., Tantra, I. G. A. B. P., Sukmana, C. H., & Pratiwi, W. D. (2022). Tinjauan transformasi bangunan dengan teori Habraken: Adaptasi historical background di bangunan konservasi Gedung Siola, Surabaya. Jurnal Arsitektur ZONASI, 5(3), 543–556. https://ejournal.upi.edu/index.php/jaz/article/view/45721
- Mahendra, D. (2025, July 3). Siola: Toserba tempat belanja kalangan elite di Surabaya di era Hindia Belanda. Radar Surabaya. https://radarsurabaya.jawapos.com/surabayapedia/2507030028/siola-toserba-tempat-belanja-kalangan-elite-di-surabaya-di-era-hindia-belanda
- From Present to the Past: the Different Way of Thinking About Conservation (a Case From Design Idea for Siola Building, Surabaya). (n.d.). https://www.neliti.com/publications/173537/from-present-to-the-past-the-different-way-of-thinking-about-conservation-a-case
- COLONIAL BUILDING TYPOLOGY IN SURABAYA OLD CITY AREA CASE STUDY: RAJAWALI STREET CORRIDOR. (n.d.). https://jurnal.unmer.ac.id/index.php/icgss/article/view/16387
